Pedagang di Pelabuhan Lama Sibolga Dikutip Rp30.000, Ini Jawaban Kadis Pariwisata

Pedagang di Pelabuhan Lama Sibolga Dikutip Rp30.000, Ini Jawaban Kadis Pariwisata
Pedagang di Pelabuhan Lama Sibolga. (istimewa)

Sibolga | Pj Kadis Pariwisata Sibolga, Rahmat Tarihoran mengkonfirmasi, bahwa pengelolaan objek wisata Pelabuhan Lama Sibolga sudah diserahkan kepada pihak ketiga.

Informasi soal kutipan iuran terhadap pedagang di kawasan objek wisata di Pelabuhan Lama Sibolga, masih sebatas wacana antara pihak ketiga dengan para pedagang.

“Ini sebenarnya masih wacana antara pihak ketiga (pengelola Pelabuhan Lama Sibolga) dengan para pedagang yang ada di sana,” kata Rahmat dikonfirmasi wartawan lewat telepon seluler, Senin (16/11/2020).

Menurut Rahmat, kondisi para pedagang di Pelabuhan Lama Sibolga kurang teratur. Sehingga pihak ketiga sebagai pengelola menawarkan penataan bagi para pedagang.

Ada pun bentuk penataan yang ditawarkan pihak ketiga, yaitu penyediaan tempat berjualan, penyediaan arus listrik, penyediaan air bersih, dan juga kebersihan lokasi jualan.

“Dalam rapat pertemuan, ditawarkan biaya untuk penataan sebesar Rp50.000. Karena terlampau mahal, diajukan para pedagang agar setegahnya saja, yaitu Rp25.000. Makanya saya juga heran, dari mana muncul angka Rp30.000,” ungkapnya.

Rahmat juga menekankan, bahwa belum ada kesepakatan untuk iuran tersebut, karena itu baru wacana. Pun kalau ada kesepakatan, itu antara pihak pedagang dengan pihak ketiga selaku pengelola Pelabuhan Lama Sibolga.

Jadi, kalau pun nanti ada kesepakatan antara mereka, itu bukan Dinas Pariwisata yang melakukan pengutipan, melainkan pihak ketiga.

“Perlu saya tegaskan, bahwa belum ada pengutipan seperti yang ramai dibahas saat ini. Dan kita juga akan mengadakan rapat hari ini dengan pihak pengelola dan pedagang,” tutur Rahmat.

Sebelumnya, Wakil Ketua DPRD Sibolga, Jamil Zeb Tumori sempat terpancing amarahnya menerima informasi tersebut.

Jamil Zeb Tumori sangat menyesalkan tindakan yang dilakukan Dinas Pariwisata Sibolga selaku pihak pengelola objek wisata Pelabuhan Lama.

“Minggu pagi kemarin, saya mandi laut di lokasi Pelabuhan Lama Sibolga, ada warga pedagang yang mengeluh tak sanggup bayar lapak Rp30.000 per hari,” ungkap Jamil Zeb Tumori, kepada wartawan, Senin (16/11/2020).

Bahkan, pedagang itu memilih untuk berhenti saja berjualan di lokasi tersebut. Pasalnya, pedagang itu mengaku, rerata omsetnya perhari cuma Rp100.000.

“Ongkos becak dari rumahnya ke lokasi jualan pulang pergi sudah Rp30.000. Kalau harus bayar Rp30.000 lagi untuk tempat jualan, maka habislah pendapatannya. Jangankan untung, modal usahanya pun tak kembali, alias buntung,” ketus Jamil.

Seharusnya, Dinas Pariwisata Sibolga jangan membuat rakyat makin susah. Apalagi menjelang berakhirnya masa jabatan Wali Kota Syarfi Hutauruk.

“Tentu saja, hal ini bisa menjadi preseden buruk terhadap kinerja Wali Kota Sibolga,” katanya.

Menurut Jamil, ide pengembangan kawasan Pelabuhan Lama Sibolga itu adalah termasuk gagasan pihaknya (DPRD). Jangan pula rakyat dibikin susah dengan kutipan tidak wajar.

Seharusnya Pemkot Sibolga Cq Dinas Pariwisata memberikan fasilitas yang nyaman bagi kelangsungan usaha rakyat, bukan malah membebaninya. Terlebih di masa pandemi Covid-19 yang berkepanjangan hingga saat ini.

“Sudahlah bantuan Covid-19 tahap 2 dan 3 tidak disalurkan, rakyat yang ingin berusaha pun dibebani. Ini namanya penindasan terhadap pedagang kecil,” beber dia.

Pun demikian, kalau rakyat sudah nyaman berusaha, barulah dikutip retribusinya. Sesuai Perda, besarannya itu cuma Rp3.000 per meter persegi.

“Bukannya dipatok seperti ini, Rp30.000 per hari. Setahu kami, target PAD di lokasi Pelabuhan Lama Sibolga ini cuma Rp55 juta per tahun,” terang Jamil.

Editor: Juniwan