Pelaku Karhutla Diancam Denda Rp10 Miliar

Pelaku Karhutla Diancam Denda Rp10 Miliar
Salah satu lokasi kebakaran hutan dan lahan. (istimewa)

Tapanuli Tengah | Kapolres Tapteng, AKBP Nicolas Dedy Arifianto menjelaskan, berdasarkan data BMKG, banyak titik hotspot di Tapteng setelah memasuki musim kemarau. Ini terpantau satelit TERRA melalui aplikasi Lancang Kuning.

Berdasar data dan informasi di lapangan, selain pengaruh musim kemarau, Karhutla juga terjadi karena perilaku membuang puntung rokok sembarangan.

Kemudian membakar sampah tapi tidak ditunggu, sehingga percikan bakaran terbang dan tak terkendali.

“Kita sudah instruksikan jajaran untuk meningkatkan pemantauan, khususnya kasus kebakaran hutan dan lahan (Karhutla),” ungkap Nicolas Dedy dalam keterangan resmi, Selasa (2/3/2021).

Beberapa wilayah Polsek jajaran juga ditemukan kasus Karhutla. Lokasinya yang jauh dari jalan utama, menjadi kendala yang sulit.

Nicolas kemudian meminta peranan semua pihak, baik pejabat pemerintahan kecamatan, desa dan unsur lainya.

“Bersama-sama kita imbau warga untuk mengantisipasi terjadinya Karhutla di Tapteng,” sebut dia.

Sebagai tahap awal, personel Bhahinkamtibmas, Babinsa dan pejabat pemerintahan kecamatan dan desa, telah memasang spanduk imbauan tentang karhutla.

Seperti diatur dalam UU 39/2014 tentang perkebunan, jika ada yang melakukan pembakaran lahan, bisa dikenakan tindak pidana dengan ancaman 10 tahun penjara.

“Setiap orang yang dengan sengaja membuka dan atau mengolah lahan dengan cara pembakaran yang berakibat terjadinya pencemaran dan kerusakan fungsi lingkungan hidup, diancam dengan pidana penjara 10 tahun dan denda Rp10 miliar,” tegas Nicolas.

Nicolas meminta masyarakat maupun badan usaha yang sedang melakukan pembersihan lahan, jangan memakai api.

“Warga tetap diperbolehkan membuka lahan, namun tidak dibenarkan dengan cara pembakaran,” katanya.

Lakukan sesuai ketentuan yang ada seperti sistem runduk, yaitu lahannya dibersihkan secara bertahap dan tidak secara sekaligus.

Editor: Juniwan